Ada manusia yang telah pergi, tetapi suaranya masih tinggal. Ada masa yang telah berlalu, tetapi aromanya masih hidup. Dan ada cinta yang tidak lagi dapat dimiliki, tetapi tak pernah benar-benar selesai di dalam hati. MELODI SENJA YANG TERTINGGAL membawa pembaca memasuki lorong-lorong kenangan yang mungkin pernah kita lalui sendiri. Tentang rumah lama. Tentang suara ibu dari dapur. Tentang ayah yang dahulu menunggu di teras. Tentang sahabat yang pernah berjalan bersama. Tentang cinta yang sempat tumbuh, tetapi tak berhasil sampai ke tujuan. Tentang pertemuan yang terlalu indah untuk dilupakan dan perpisahan yang terlalu dalam untuk diceritakan. Seperti senja, tidak semua yang indah diciptakan untuk tinggal selamanya. Sebagian hanya datang sebentar, memberi warna pada langit kehidupan kita, kemudian perlahan menghilang di balik cakrawala. Namun kepergiannya meninggalkan melodi. Kadang terdengar ketika hujan turun. Ketika lagu lama diputar. Ketika melewati sebuah jalan. Ketika menemukan foto usang. Atau ketika sebuah nama tiba-tiba melintas dalam ingatan tanpa pernah kita undang. Buku ini bukan ajakan untuk terus tinggal di masa lalu. Justru sebaliknya. Ia mengajak kita berdamai dengan kenyataan bahwa tidak semua yang pergi harus dilupakan agar kita dapat melanjutkan kehidupan. Ada kenangan yang memang pantas disimpan. Bukan untuk membuat kita kembali. Melainkan untuk mengingatkan bahwa kita pernah mencintai, pernah dicintai, pernah tertawa, pernah menangis: dan semua itu telah ikut membentuk kita menjadi hari ini. Sebab senja boleh berakhir. Namun beberapa melodi memilih tinggal lebih lama di dalam hati.❤️ Jakarta, 22 Agustus 2026